Ngerasa jenuh gak sih sama rata-rata Masa
Orientasi Siswa (red: MOS) di Indonesia? Dimana “siswa baru” diharuskan memakai atribut
ala gembel kelepas gaul yang gak jelas asal-usulnya. Yang pakai kaos kaki warna
putih di kaki kiri dan warna hitam di kaki kanan atau sebaliknya lah, pakai
topi yang dibuat dari bola plastik yang dibelah jadi dua lah, tas yang harus
dibuat dari karung beras/kantong plastik lah, yang cewek rambutnya diikat pakai
tali rafiah lah, dan kadang juga disuruh bawa compeng buat diemut, serta masih
banyak lagi kegilaan lainnya.
![]() |
| sumber: twicsy.com |
Kalau dipikir-pikir, itu semua buat apa coba? Emang
ada gitu, filosofi atau nilai-nilai di balik pemakaian semua atribut itu?
Kalau ada, kok saya gak pernah tau ya? Apa memang
saya yang kelewat kudet makanya gak tau? Atau emang beneran gak ada? Kalau gak ada,
terus ngapain buat tradisi begituan? Serius, saya pribadi ngerasa itu cuma bikin
repot dan malu-maluin saja kalau dipakai.
Dan menurut saya, ada dua faktor pendorong utama
dilakukannya MOS seperti ini
- Meneruskan tradisi yang sudah ada
- Balas dendam (konteksnya lebih halus)
Poin pertama, untuk apa meneruskan tradisi lama
yang gak ada gunanya? Walaupun itu sudah tradisi turun-temurun di sekolah kita
atau bahkan di seluruh sekolah di Indonesia, tapi kalau gak ada manfaatnya
untuk apa? Saya rasa untuk jadi orang yang berpendidikan tidak perlu diawali
dengan berpenampilan layaknya orang gila.
Poin kedua, untuk apa balas dendam? Supaya
sama-sama merasakan gitu? Udah deh, kalau emang dulu kalian ngerasa MOS seperti itu rasanya gak
enak (karena malu-maluin), ya sudah jangan diterusin lagi ke adik-adik kelas yang
baru. Cobalah bersikap
dewasa, kalau bukan kalian yang ngeberhentiin tradisi ini, siapa lagi? Budaya seperti ini sudah saatnya diberhentikan.
Sedikit saran dari saya, daripada para siswa
baru disuruh berpenampilan ala gembel kelepas gaul, mendingan disuruh
berpenampilan rapi. Rapi mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki (WAJIB). Semua orang sama rata,
tidak ada perbedaan. (rapi bukan berarti ketika cukur rambut harus plontos
ya... kecuali kalau emang sekolah taruna, itu lain lagi ceritanya).
Dan kalau ngadain MOS itu gak usah lama-lama, 3
hari saja sudah dirasa cukup. Yang penting materi yang diberikan benar-benar
tersampaikan dan kegiatannya berjalan dengan lancar. Mulai dari pengenalan
lingkungan sekolah, sistem belajar di sekolah tersebut, ekstrakulikuler yang
ada, budaya khas dari sekolah tersebut, dll, hingga games-games kelompok yang diberikan dengan tujuan melatih
kekompakan dan tentunya agar para siswa bisa lebih saling kenal satu sama
lainnya.
Saya juga setuju banget, kalau ketika masa MOS “mereka” tiap harinya diberi
PR untuk membawa sesuatu dari klu yang telah diberikan oleh panitia mos
sebelumnya. Misal, klu dari panitia adalah ratu perak, berarti yang harus mereka
bawa adalah “cokelat silverqueen”. Karena PR seperti ini bisa digunakan untuk melatih logika
para siswa baru.
Revolusikan “Masa
Orientasi Siswa” dengan cara kalian yang lebih kreatif! :)


